;

01/08/13

Hari Raya Nyepi

01/08/13

   Hari Raya Nyepi adalah Hari Raya umat Hindu, yang jatuh pada tanggal satu, sasih kedasa (sepuluh), sehari setelah Tilem Kesanga (sembilan)menurut kalender Bali. Nyepi dirayakan sebagai pergantian tahun baru Caka, yang dimulai sejak tahun 78 Masehi.

   Kata Nyepi berasal dari kata Sepi / Sunyi. Dan tahun baru Caka dimulai dengan menyepi, tidak ada aktifitas seperti biasanya, semua kegiatan ditiadakan, termasuk pelayanan umum pun ditutup, kecuali Rumah Sakit.

  Tujuan utama Hari Raya Nyepi adalah memohon kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa ( Tuhan Yang Maha Esa ), untuk menyucikan Bhuana Alit (alam manusia/ microcosmos), dan Bhuana Agung (alam semesta/macrocosmos).

Rangkaian Nyepi:

Melasti
Melasti sering juga disebut Melis/ Mekiis, Melasti dilaksanakan pada pangelong 13 sasih kesanga, pada upacara melasti ini dilaksanakan pensucian atau pembersihan segala sarana dan prasarana persembahyangan. Sarana-sarana tersebut selanjutnya diusung ke tempat pembersihan seperti laut atau sumber mata air lain yang dianggap suci, sesuai dengan tempat pelaksanaan upacara. Tujuan dari upacara Melasti adalah untuk memohon tirta amertha sebagai air pembersih dari Hyang Widhi (Tuhan).

Tawur Kesanga
Tawur kesanga dilakukan sehari sebelum Nyepi, yaitu pada tilem kesanga. Pada upacara ini dilakukan persembahan kepada para Butha yaitu berupa caru (semacam sesajian), tujuannya supaya para butha tidak menurunkan sifat-sifatnya pada pelaksanaan hari raya Nyepi. Hal ini bertujuan untuk menghilangkan unsur-unsur jahat dari diri manusia. Upacara tawur kesanga sering juga disebut upacara pecaruan, dan tergolong upacara Butha Yadnya. Upacara pecaruan diikuti dengan pengerupukan yaitu menyebar-nyebar nasi tawur, mengobor-obori rumah dan seluruh pekarangan, serta memukul benda-benda apa saja (biasanya kentongan), hingga bersuara gaduh/ramai. Tahap ini bertujuan untuk mengusir Butha kala dari lingkungan rumah dan pekarangan, dan sekitarnya. Di Bali, pengerupukan dimeriahkan dengan pawai Ogoh-Ogoh, yang merupakan perwujudan dari Butha Kala yang diarak keliling lingkungan, dan kemudian dibakar. Tujuannya sama, yaitu mengusir Butha Kala dari lingkungan sekitar.

                                                                    foto : google.com

Nyepi
Hari Raya Nyepi dirayakan dengan melakukan Catur Bratha Penyepian, yang terdiri dari empat macam pantangan, yaitu Amati Geni (tidak menyalakan api), Amati Karya (tida bekerja), Amati Lelungan (tidak bepergian), dan Amati Lelanguan (tidak melakukan kegiatan hiburan). Semua pantangan ini dilakukan untuk mengekang hawa nafsu dan segala keinginan jahat sehingga tercapai suatu ketenangan atau kedamaian batin. Dengan ini, pikiran manusia bisa terintrospeksi atas segala perbuatannya dimasa lalu, dan pada saat yang sama memupuk perbuatan baik untuk tahun berikutnya. Semua ini dilakukan selama satu hari penuh pada hari raya Nyepi. Bagi yang mampu melakukan, biasanya melaksanakan tapa, brata, yoga, dan semadi.

Ngembak Geni
Sehari setelah hari raya Nyepi, semua aktifitas berjalan seperti biasa. hari ini dimulai dengan persembahyangan dan pemanjatan doa kepada Hyang Widhi untuk kebaikan pada tahun yang baru. Pada hari ngembak geni hendaknya umat saling bersilaturahmi dan saling memaafkan satu sama lain.

  Hakekat hari raya Nyepi adalah hari pengekangan hawa nafsu dan introspeksi diri atas segala perbuatan yang dilakukan pada masa lalu. Pelaksanaan hari raya Nyepi ini harus didasari dengan niat yang kuat, tulus dan ikhlas tanpa ada ambisi tertentu. Pengekangan hawa nafsu untuk mencapai kebebasan batin memang suatu ikatan tetapi ikatan itu dilakukan dengan penuh keikhlasan.


sumber : hindubatam.com , wikipedia.org

Wayan Wartika - 22.37

19/09/12

Munduk Bali Restaurant, Kuali Bali Restaurant

19/09/12

Kuali Bali Restaurant, adalah sebuah Restoran yang terletak di Desa Munduk, Kecamatan Banjar, Singaraja , Bali Utara. Untuk menemukan Restoran ini sangat mudah, karena hanya 18km dari Bedugul, dan 30 menit dari Danau Tamblingan Munduk Bali. Dan terletak disebelah kanan jalan, dari arah bedugul ke Munduk. Lihat lokasinya di Google Map.
Kuali Bali Restaurant menyajikan konsep tradisional dan sentuhan modern, mengadopsi bentuk Wantilan, Wantilan biasanya digunakan untuk rapat, atau tempat pagelaran oleh masyarakat Bali.
Kuali Bali Restaurant menyajikan berbagai pilihan makanan, dari makanan khas Bali, masakan Indonesia, Cina, dan masakan Eropa.
Rasakan sejuknya alam Munduk, dan manjakan diri Anda, dengan menyaksikan indahnya panorama pegunungan, dipadu dengan luasnya perkebunan cengkeh yang dapat dilihat dari Kuali Bali Restaurant, sambil menikmati lezatnya makanan dan minuman yang disajikan. Atau sambil mengakses internet gratis yang tersedia disini.
Jadi jika Anda mencari restoran dikawasan Munduk, Anda bisa datang ke Kuali Bali Restaurant, yang berada di Desa Munduk, Banjar, Singaraja, Bali. Selamat Berwisata.

Wayan Wartika - 07.17

17/08/12

Tari Legong - Bali

17/08/12

Tari Legong berasal dari kata "Leg" yang artinya luwes atau lentur/ elastis, dan "Gong" yang artinya gamelan, jika digabungkan akan menjadi Legong, yang berarti gerakan yang sangat diikat ( terutama aksentuasinya ) oleh gamelan yang mengiringinya.

Pada awalnya tari Legong muncul dikalangan Istana Kerajaan di Bali, ketika itu Raja I Dewa Agung Made Karna, dari kerajaan Sukawati yang berkuasa pada tahun 1775-1825 Masehi, bermimpi melihat bidadari sedang menari di Surga, mereka menari menggunakan hiasan kepala yang terbuat dari emas. Setelah itu Raja Sukawati menitahkan untuk membuat topeng yang wajahnya sama dengan wajah yang terlihat dalam mimpi beliau, dan membuat tarian yang sama dengan tarian yang terlihat dalam mimpi tersebut. Akhirnya pada saat muncullah tari Sang Hyang Legong.

foto: wikipedia

Tak lama kemudian, muncul tarian yang mirip dengan Sang Hyang Legong, dan Raja Gianyar yang berkuasa pada waktu itu, yaitu Raja I Dewa Agung Manggis, sangat tertarik melihat tarian yang mirip dengan tari Sang Hyang Legong, dan memerintahkan kepada dua seniman Sukawati untuk menata kembali dengan menggunakan dua orang penari wanita , sejak saat itu terciptalah tari Legong Klasik yang kita lihat sampai sekarang.

Sesuai dengan awal mulanya, penari Legong adalah gadis yang belum mendapat menstruasi, kedua penarinya disebut Legong, dan dilengkapi dengan kipas sebagai alat bantu. Pada beberapa tari Legong terdapat seorang penari tambahan yang biasanya tidak menggunakan kipas, penari tambahan tersebut dinamakan condong. Pada umumnya, struktur tarinya terdiri dari papeson, pangawak, pengecet , dan pekaad.

Tari-tari Legong yang ada di Bali, pada awalnya diiringi oleh Gamelan Pelegongan. Namun seiring perkembangan Gong Kebyar di Bali, akhirnya tari-tari pelegongan ini bisa juga diiringi dengan gamelan gong Kebyar.

sumber: ISI Denpasar dan Wikipedia

Wayan Wartika - 07.01

03/08/12

Tips Mengunjungi Pura di Bali

03/08/12

Pulau Seribu Pura, itulah julukan yang diberikan untuk Bali, karena di Bali terdapat banyak Pura dan Sanggah, yang digunakan untuk tempat sembahyang oleh umat Hindu.

Jika Anda ingin berkunjung ke beberapa pura di Bali, berikut ini ada beberapa tips untuk mengunjungi Pura di Bali :


1. Tanyakan kepada Orang yang Anda temui, apakah diperbolehkan untuk masuk Pura tersebut.
2. Mentaati ketentuan masuk Pura.
3. Berbusana yang bersih dan rapi, bila perlu memakai selendang dan kain. Biasanya disediakan dipintu masuk Pura.
4. Bagi Wanita yang sedang datang bulan (menstruasi), dan baru melahirkan, dilarang masuk ke Pura.
5. Bersikap dan bicaralah yang sopan, dan jangan meludah di areal Pura.

Sahabat, itulah beberapa tips untuk berkunjung ke Pura di Bali. Semoga bermanfaat bagi Anda.

Selamat Berwisata

Wayan Wartika - 20.05

29/07/12

Penjor dan makna-nya

29/07/12

Jika Anda berkunjung ke Bali pada Hari Raya Galungan, Anda akan melihat deretan bambu melengkung berisi hiasan dipasang di depan rumah-rumah penduduk, disepanjang jalan raya. Mungkin Anda akan bertanya-tanya dalam hati, benda apakah itu?. Benda tersebut disebut Penjor, berikut ini akan kita bahas makna dari Penjor tersebut.

Penjor berasal dari kata Penjor, yang berarti Pengajum, atau Pengastawa, kalau dihilangkan huruf "ny" , menjadi kata benda yaitu Penyor yang berarti : sebagai sarana untuk melaksanakan Pengastawa.

Di Bali ada dua jenis Penjor, yaitu Penjor hiasan dan Penjor Sakral. Penjor hiasan digunakan pada acara lomba desa, dan Penjor sakral dipasang pada upacara keagamaan,seperti Galungan, dan piodalan/upacara di Pura. Penjor hiasan tidak berisi Sanggah penjor, pala bungkah,pala gantung dan porosan dan lain-lain. Sedangkan Penjor Sakral dihiasi dengan pala bungkah, pala gantung, lamak, sampiyan, jajan, dan sebagainya.


Penjor Galungan dipasang sehari sebelum Galungan, yaitu selasa wage wuku dungulan, yang disebut Penampahan Galungan,  Penjor dipasang di lebuh didepan sebelah kanan pintu masuk pekarangan. Sanggah dan lengkungan Penjor mengahadap ke tengah jalan.

 Penjor dibuat dari bambu yang ujungnya melengkung. Dihias dengan janur atau daun enau muda dan daun-daunan lain yang disebut pelawa. Perlengkapan  Penjor adalah : Palabungkah / umbi-umbian seperti ketela rambat, Pala gantung,seperti buah kelapa, nanas, pisang. Palawija seperti jagung dan padi. Jajan dan sanggah Ardha Candra, lengkap dengan sesajen. Diujung penjor di isi sampiyan lengkap dengan porosan dan bunga. Sanggah Ardha Candra di buat dari bambu berbentuk segi empat dan atapnya melengkung setengah lingkaran.

Memasang Penjor bertujuan untuk mewujudkan rasa bakti dan sebagai ungkapan terima kasih kita atas kemakmuran yang diberikan oleh Ida Sang Hyang Widhi (Tuhan). Bambu yang melengkung adalah gambaran dari gunung tertinggi sebagai tempat yang suci, hiasan Penjor yang terdiri dari kelapa, pisang, tebu, jajan, dan kain adalahwakil dari semua tumbuh-tumbuhan dan benda sandang pangan, yang dikaruniai oleh Hyang Widhi Wasa (Tuhan).

Kalau dilihat dari bentuk, Penjor adalah lambang pertiwi (tanah) yang memberikan kehidupan dan keselamatan. Pertiwi (tanah) tersebut digambarkan sebagai dua ekor Naga, yaitu Naga Basuki, dan Ananta Bhoga. Selain itu penjor merupakan simbol gunung, yang memberikan keselamatan dan kesejahtraan.

Penjor galungan bersifat religius, yang mempunyai fungsi tertentu dalam upacara keagamaan,dan wajib di buat lengkap dengan kelengkapannya, membuat penjor untuk upacara memerlukan syarat tertentu, dan sesuai dengan Sastra Agama, agar tidak berkesan sebagai hiasan saja.

Demikian ulasan singkat tentang Penjor dan makna-nya, semoga bermanfaat bagi kita semua.

sumber: www.parisada.org


Wayan Wartika - 06.38

26/07/12

Rangkaian Hari Raya Galungan

26/07/12

Dari konsepsi Lontar Sundarigama, didapatkan kesimpulan bahwa hakekat Galungan adalah merayakan menangnya Dharma (kebenaran), melawan Adharma (kebatilan). Untuk memenangkan Dharma tersebut, ada serangkaian kegiatan yang dilakukan sebelum dan setelah hari raya Galungan.Sebelum Galungan ada disebut Sugihan Jawa, dan Sugihan Bali.

Sugihan Jawa dilaksakan enam hari sebelum Galungan, yaitu pada kamis wage,wuku Sungsang. Makna dari Sugihan Jawa adalah menyucikan Bhuwana Agung (bumi ini) diluar dari Manusia. Kata Jawa disini berati Jaba/luar, dalam Lontar Sundarigama disebutkan : pada Sugihan Jawa merupakan pasucian dewa kalinggania pamrastista Batara kabeh (Pasucian Dewa, karena hari itu adalah hari panyucian semua Bathara). Pelaksanaan upcaranya dengan membersihkan semua tempat dan peralatan upacara pada masing-masing tempat suci.

Kemudian ada Sugihan Bali, yang disebutkan menyucikan diri sendiri (menyucikan badan jasmani kita masing-masing). Dalam bahasa Sansekerta, kata Bali artinya kekuatan yang ada dalam diri kita, dan itulah yang disucikan. Sugihan Bali dilaksanakan pada Jumat Kliwon wuku Sungsang.

Hari Minggu (redite ) paing wuku Dungulan, diceritakan Sang Kala Tiga Wisesa turun mengganggu manusia, maka dianjurkan untuk mendiamkan pikiran agar tidak dimasuki oleh Butha Galungan (Anyekung Jnana). Orang yang pikirannya suci tidak akan dimasuki oleh Butha Galungan.

Pada hari senin pon wuku dungulan, dua hari sebelum galungan, disebut Penyajaan Galungan, pada hari ini orang yang memahami Yoga dan Semadhi melakukan pemujaan. Penyajaan berasal dari kata "Saja", yang artinya kesungguhan hati untuk menyambut Galungan dan Kuningan. Masyarakat mewujudkan dengan membuat jajan atau penganan.

Pada anggara (selasa) wage wuku dungulan, disebut Penampahan Galungan, hari ini dianggap sebagai hari untuk mengalahkan Butha Galungan, dengan upacara pokok yaitu membuat banten Byakala. Masyarakat kebanyakan padahari ini menyembelih babi sebagai binatang korban. Makna sesungguhnya adalah membunuh atau mengendalikan sifat-sifat kebinatangan yang ada pada diri kita.

Kemudian pada Budha (rabu) kliwon wuku dungulan, adalah Hari Raya Galungan, yaitu hari kemenangan Dharma melawan Adharma. Baca makna hari raya Galungan.
Perayaan hari raya Galungan, tidak dapat dilepaskan dari keberadaan penjor yang merupakan simbol dari Gunung, yang memberikan keselamatan dan kesejahtraan. Penjor dibuat dari sebatang bambu yang ujungnya melengkung, dan dihias dengan daun kelapa yang masih muda (janur). Biasanya di pasang di depan rumah, sanggah dan lengkungan penjor menghadap ke jalan.

Keesokan harinya, pada kamis umanis wuku dungulan, dinamakan hari Manis Galungan, hari ini umat mengenang betapa indahnya kemenangan Dharma. Biasanya masyarakat mewujudkan dengan mengunjungi tempat-tempat yang panoramanya indah, dan juga mengunjungi saudara dan keluarga.

Hari berikutnya , pada sabtu pon wuku dungulan, dinamakan hari Pemaridan Guru, hari ini dilambangkan Dewata kembali ke Sorga dan meninggalkan anugerah yaitu hidup sehat panjang umur.

Hari jumat wage kuningan disebut Penampahan Kuningan, hari ini hanya dianjurkan untuk melakukan kegiatan rohani untuk melenyapkan kekotoran pikiran. Pada Lontar Sundarigam tidak disebutkan upacara yang meski dilakukan.

Sabtu kliwon wuku kuningan, disebut Hari raya Kuningan, dalam Lontar Sundarigama disebutkan upacara menghaturkan sesaji pada hari ini hendaknya dilakukan pada pagi hari, hindari melakukan upacara lewat dari tengah hari, karena pada tengah hari para Dewata dan Dewa Pitara diceritakan kembali ke Swarga, atau Sorga.

Demikianlah rangkaian kegiatan yang dilakukan, sebelum dan setelah Galungan, semoga artikel ini bermanfaat untuk Anda.

sumber: www.hindubatam.com


Wayan Wartika - 22.45

Makna Hari Raya Galungan

Hari Raya Galungan adalah salah satu Hari Raya besar bagi umat Hindu, yang datangnya setiap 210 hari, menurut Pawukon yaitu jatuh pada hari rabu kliwon wuku dungulan. Kata Galungan berasal dari Bahasa Jawa Kuno, yang artinya menang atau bertarung.

Hari raya Galungan diperingati sebagai hari kemenangan Dharma atau kebaikan, melawan Adharma atau kejahatan. Maksudnya adalah agar manusia selalu mampu untuk mengendalikan pikiran dari godaan dan hawa nafsu, keserakahan, iri hati, dan semua kekacauan pikiran yang ada dalam diri manusia.

Galungan merupakan upacara sakral yang memberikan kekuatan spriritual, agar kita mampu membedakan yang mana dorongan hidup yang berasal dari kejahatan (Adharma) , dan mana dari suara kebenaran (Dharma) yang ada dalam diri kita. Galungan merupakan salah satu upacara, untuk mengingatkan manusia secara ritual dan spiritual agar kita selalu menegakkan Dharma, melawan Adharma.

Dalam Lontar Sundarigama, Galungan dijelaskan sebagai berikut: "Rabu Kliwon Dungulan namanya Galungan, arahkan bersatunya rohani supaya mendapatkan pandangan yang terang, untuk melenyapkan segala kekacauan pikiran". Dari konsepsi Lontar Sundarigama itulah didapatkan sebuah kesimpulan, bahwa hakekat Galungan adalah  merayakan kemenangan Dharma melawan Adharma. Untuk memenangkan Dharma, ada rangkaian kegiatan / upacara, yang dilakukan sebelum dan setelah Galungan.

Menurut Lontar Purana Bali Dwipa, Hari Raya Galungan pertama kali dirayakan pada Purnama kapat, tanggal 15, buda (rabu) kliwon wuku Dungulan, tahun saka 804 atau tahun 804 masehi.

sumber: www.hindubatam.com

Wayan Wartika - 09.15